LINTAS DAERAHOLAHRAGA

Dana Puluhan Juta, IPSI Bondowoso Beri Hadiah Atlet Tak Layak

BONDOWOSO, kompasjatim.com – Sebelumnya dikatakan Sunargi, Ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) kabupaten Bondowoso mengakui hadiah yang diberikan kepada para atlet yang menjadi pemenang disorot oleh berbagai LSM. Karena hadiah yang ia berikan kepada atlet dianggap tidak layak.

Dia berkelit, bahwa event pencak silat yang berlangsung selama empat hari di GOR Pelita 27-30 Desember 2018 Bondowoso kemarin, hingga menghabiskan anggaran konsumsi yang lumayan besar.

“Bagi pemenang tanding pencak silat kami memang tidak menyediakan hadiah uang pembinaan dan piala yang kami berikan terdiri dari Emas, Perak dan Perunggu. Tapi bagi juara 3 hanya alakadarnya,” katanya.

Lanjut Sunargi menjelaskan rincian pendapatan event pencak silat Bupati Cup Bondowoso, dana dari KONI (Komete Olahraga Nasional Indonesia) Bondowoso sebesar Rp 25 juta.Pendaftaran peserta Rp 50 ribu/peserta sebanyak 758 peserta dan harga tiket masuk bagi penonton Rp 3.000

Hal itu sama dengan kejuaraan Kemenpora, atau daerah yang lain, kata Sunargi, karena event ini untuk penjaringan atlet berprestasi dari tingkat usia dini.

“Sebetulnya anggaran dari KONI ke IPSI sebanyak Rp 25 juta itu kecil. Kalau kita tidak menyelenggarakan event ini nanti kita disalahkan, anggarannya hanya segitu mau gimana lagi,” pungkasnya.

Sejatinya, penghargaan dan hadiah yang diberikan oleh panitia penyelenggara seharusnya yang layak kepada para atlet sebagai bentuk apresiasi karena wujud prestasinya. Namun, bentuk kepedulian kepada atlet berprestasi cenderung tak dihiraukan.

Semua atlet yang sukses mengukir prestasi sudah sepantasnya diberi penghargaan yang layak. Penghargaan atau hadiah dalam bentuk uang pembinaan atau lainnya yang perlu diberikan ke­pa­da atlet berprestasi.

Atau, reward seperti itu bertujuan me­mo­tivasi atlet bersangkutan dan atlet lain untuk terus berprestasi. Sudah sewajarnya penghargaan diberikan kepada atlet pada umumnya.

Dengan penghargaan yang layak akan memberi pesan bah­wa profesi atlet sesungguhnya memiliki masa depan yang baik. Kendati demikian, setiap orang tua akan lebih berani mendorong anak­nya untuk menekuni olahraga.

Namun di Bondowoso, ada kecenderungan orang tua kurang men­dukung anaknya menjadi atlet karena khawatir masa depan anak tidak secerah profesi lain. Kekhawatiran itu pastinya sangat beralasan.

Reporter : Moh. Darmono
TAG

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: