KESEHATAN

Kepala Dinkes Bondowoso Sebut Stunting Mencapai Angka 8.000 Lebih

BONDOWOSO, kompasjatim.com – Upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah stunting di kabupaten Bondowoso, Jawa Timur terus dilakukan.

Menurut dokter Muhammad Imron, Kepala Dinas Kesehatan, mengakui kondisi stunting di kabupaten Bondowoso, masih berada di posisi ke tiga terbanyak di Jawa Timur. Hal itu diketahui setelah dilakukan bulan timbang di 2018 kemarin.

Lanjutnya, stunting masih tersebar di 23 kecamatan se-kabupaten Bondowoso, dan 10 desa menjadi prioritas. Dari balita 45.956 yang lahir dan dilakukan timbang, sebanyak 8.000 sekian ditemukan stunting.

Indikator tingginya jumlah stunting adalah kemiskinan, hasil survey PSG (Pemantauan status gizi) di kabupaten Bondowoso. Akhirnya, ditetapkan 19 desa menjadi prioritas stunting.

“Data dari Dinas Kesehatan, tahun 2018 saat bulan timbang 2018 kemarin, dari 19 desa tidak kemudian desa yang lain tidak ada stunting. Semua desa masih ada stunting 23 kecamatan dan mencapai 8.000 lebih stunting,” ungkapnya, Selasa (19/2/2019).

Untuk pencegahan melalui anggaran dana pusat, untuk mengurangi jumlah stunting, yaitu anggaran BOK. Ia berharap anggaran itu lebih mengintervensi pada program stunting.

Sementara itu, dr. Titik Erna Erawati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Bondowoso, mengatakan untuk pencegahan stunting, lebih hulu lagi pihaknya persiapkan remaja putri supaya meminum obat penambah darah, agar tidak anemia.

Pasalnya, anemia juga salah satu faktor penyebab stunting. Jika nanti remaja putri pertumbuhannya baik dan bila mempunyai balita nanti tidak stunting.

“Obat penambah darah itu, anjuran dari pusat satu minggu diminum satu kali, apapun kondisinya. Meskipun ment dan tidak harus minum satu tablet seminggu,” katanya.

Bagi ibu hamil diharuskan minum obat penambah darah ini setiap hari sampai 41 hari atau nifasnya selesai. Karena ibu – ibu sudah terkena anemia kandungan kurang sehat dan otomatis janinnya juga tidak sehat.

“Semua Puskesmas yang ada di daerah masing – masing mengedarkan obat penambah darah ini kesetiap sekolah. Tentunya diawali sosialisasi betapa pentingnya obat penambah darah bagi remaja putri,” jelasnya.

Efek samping dari obat penambah darah itu biasanya mual. Jika obat itu diminum oleh ibu hamil, akan mencegah kecacatan bayinya.

“Obat ini dari Kemenkes dengan jumlah banyak akan di drop keseluruh sekolah agar diberikan kepada siswanya tiap minggu sekali,” pungkasnya.

Reporter : Moh. Darmono
TAG

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: